hiki's lifelog

Berburu Museum Passport: Part 2

Setelah gagal mendapatkan Museum Passport di Gramedia Matraman kemarin sore, hari ini saya memutuskan untuk menguji keberuntungan saya di tempat lain. Singkat cerita, kalau kalian penasaran seperti apa hasilnya (dan malas membaca, tak apa), saya akhirnya berhasil mendapatkan buku tersebut di sana.

Awalnya, saya ingin menyerah saja cari passport yang sedang viral di kalangan stamp otaku ini, namun entah kenapa saya masih penasaran sekali. Setelah memikirkan dalam-dalam sepanjang malam (niat sekali), saya memutuskan pergi ke Galeri Nasional Indonesia untuk mencari Museum Passport ini.

Alasannya sederhana. Pertama, Galeri Nasional Indonesia (atau Galnas) masih relatif dekat dari rumah saya dibandingkan tempat lain di bawah naungan Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB) di area Jakarta. Saya bisa sampai di sana dalam waktu kurang dari satu jam jika naik TransJakarta. Kedua, sebagai orang yang cukup sering lewat sekitaran Galeri Nasional, tempat ini cukup sepi pengunjung, jadi kemungkinan saya bisa dapat Museum Passport di sana cukup besar (karena sedikit saingan). Ketiga, karena Galeri Nasional masuk ke dalam bagian dari Museum dan Cagar Budaya Indonesia (MCB), jadi kemungkinan saya bisa dapat buku ini cukup besar.

Dan sekitar jam 12 siang, saya pun berangkat ke Galeri Nasional.

Untuk sampai ke Galeri Nasional, kalian bisa naik TransJakarta koridor 2 (ke arah Pulo Gadung) dan turun di Halte Gambir 2. Dari Gambir 2, kalian tinggal berjalan sekitar lima menit saja untuk sampai ke Galeri Nasional.

Sesampainya di depan Galeri Nasional, kalian masuk saja dan jalan ke arah Mushola. Di depan Mushola, terdapat toko (sayangnya tanpa papan nama) yang menjual buku, kartu pos, hingga gantungan kunci di sana. Masuklah ke dalam toko tersebut, karena di sanalah tempat untuk membeli Museum Passport dan juga stempel-stempel dari Galeri Nasional diletakkan. Kalau masih bingung dengan penjelasan saya ini, kalian tanya saja petugas atau security di depan Galeri Nasional sesampainya di sana, dengan senang hati mereka bakal bantu kalian.

Begitu masuk ke dalam toko, Museum Passport dengan jelas ditampilkan di meja, menandakan bahwa mereka punya stok bukunya. Akhirnya. Setelah mendapatkan buku serta warna yang saya inginkan, saya pun langsung membayarnya ke kasir.

Penampakan Museum Passport Stamp Book

Tak lupa, saya pun membeli satu set kartu pos di sini dengan harga 50 ribu Rupiah (isi 2-3 kartu pos).

Kartu pos yang dijual di Galeri Nasional

Setelah bayar ke kasir, tibalah untuk mengecap buku yang baru dibeli ini dengan cap dari Galeri Nasional Indonesia, untuk menandakan kalian telah berkunjung ke sini. Di Galeri Nasional ini, telah disediakan enam cap yang kalian bisa pakai di Museum Passport atau di jurnal lain milik kalian.

Stempel dari Galeri Nasional Indonesia, yang berada di dalam Toko Galnas

Kesan saya terhadap Museum Passport ini adalah harganya yang masih cukup mahal (bagi saya), sekitar 81 ribu Rupiah (89 ribu Rupiah kalau kalian beli di Gramedia). Selain itu walau kertasnya agak tipis, namun tinta cap tak begitu tembus ke halaman berikutnya, hanya saja tinta cap terasa lambat sekali keringnya di kertas Museum Passport ini, jadi saya harus meniup-niup agar kering (atau kalian bisa siapkan kertas HVS atau tissue untuk dipakai menyerap kelebihan tintanya).

Kira-kira beginilah cap dari Galeri Nasional yang saya dapatkan hari ini:

Cap dari Galeri Nasional Indonesia

Dengan demikian, maka berakhirlah pencarian buku ini dan juga dimulainya petualangan saya untuk mencari kepingan kenangan di museum-museum serta cagar budaya yang ada di Indonesia ini.

#Note #StampHunting