hiki's lifelog

Berpisah dengan Cita-Cita

"Tepat hari ini, tanggal 25 Februari 20 tahun yang lalu... Aku berpisah dengan cita-citaku."

-Nobisuke Nobi, Ayah Nobita (dalam komik Doraemon)

Di tanggal 25 Februari, Nobisuke Nobi, Ayah Nobita, memutuskan untuk berpisah dengan cita-citanya dan melanjutkan hidup sebagai pegawai biasa.

Sementara saya, pada hari ini, tanggal 27 April 2025, saya memutuskan untuk berpisah dengan cita-cita saya sebagai seorang Engineer dan hidup sebagai warga biasa.

Hal ini bukan tanpa alasan.

Mungkin saya harus kilas balik sedikit mengenai hidup saya.

Saat SD hingga SMA, saya bercita-cita ingin menjadi seorang Arsitek karena pada saat itu saya senang sekali menggambar latar belakang, seperti rumah maupun gedung. Sayangnya, cita-cita tersebut pupus karena orangtua saya tak mengizinkan saya menjadi seorang Arsitek. Ia merasa bahwa saya lebih cocok menjadi sebagai seorang Engineer di perusahaan migas. Terlebih lagi, pada saat itu harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya.

Saya pun terpaksa menuruti keinginan orangtua saya dan kuliah di teknik perminyakan karena merekalah yang membiayai kuliah saya.

Saat kuliah, nilai-nilai saya jelek, busuk malah. Bahkan, IP saya pernah nasakom alias satu koma pada suatu semester. Saya hampir drop-out dari kuliah sebelum pada akhirnya saya diajar oleh dosen Geologi yang membimbing saya kembali ke jalur yang benar. Namanya adalah "dosen S." Ia tak hanya mengajari seluk-beluk Geologi, namun juga mengajari tentang kehidupan. Sejak diajar olehnya, saya mempunyai impian baru: menjadi seorang Geologist. Selama semester itu, saya berusaha keras keluar dari keterpurukan dan pada akhir semester saya mendapatkan IP tiga koma, dengan nilai Geologi yang bisa dibilang hampir sempurna.

Akan tetapi, di semester berikutnya dosen S memutuskan untuk berhenti mengajar dan kembali bekerja di luar negeri.

Berkat dosen S, semangat saya tak padam, bahkan makin menyala. Pernah dalam beberapa semester saya mendapatkan IP 4: sempurna. Semua mata kuliah bernilai A.

Di semester akhir, saya menghadapi beberapa hambatan. Mulai dari sulitnya mencari data untuk tugas akhir, hingga diremehkan oleh seorang doktor yang bekerja di sebuah lembaga, hanya karena saya mengambil tema tugas akhir yang bisa dibilang sulit, dan meragukan saya bisa menyelesaikannya. Tentu, pada saat itu saya menangis, tetapi saya masih tak mau menyerah. Saya kembali mencari di tempat lain selama enam bulan sebelum pada akhirnya saya sukses mendapatkan data untuk tugas akhir.

Di kampus, saya dibimbing oleh "profesor R" dengan sangat baik. Saat sidang tugas akhir, saya hadapi semua pertanyaan dari penguji tanpa hambatan, dan di akhir sidang saya mendapatkan nilai A. Pada akhir semester tersebut, IPK akhir saya hampir menyentuh angka 3.5, serta penelitian tugas akhir saya dipublikasikan ke dalam jurnal teknik perminyakan. Tak hanya sampai di situ, beberapa bulan setelahnya, atas rekomendasi profesor R saya ditugaskan untuk membantu Engineer lain untuk mengerjakan proyek pengembangan lapangan di salah satu wilayah di Indonesia. Itu adalah pekerjaan pertama saya di dunia migas. Saat itu, saya optimis sekali akan masa depan saya.

Akan tetapi semuanya berubah saat pandemi datang.

Di awal pandemi, proyek yang saya ikuti pun berakhir. Tak lama setelahnya, profesor R wafat. Entah harus apa, saya pun terus melanjutkan hidup setelahnya. Cari lowongan kerja kesana-kemari, hingga belajar skill baru yang entah bakal berguna atau tidak di kemudian hari. Semua demi bertahan hidup.

Namun saat ini, api bernama passion itu telah padam dalam diri saya. Di hari ini, tanggal 27 April.

Mencari pekerjaan yang sesuai dengan skill saya sangat sulit sekali. Kebanyakan lowongan saat ini hanya mencari orang daerah, atau orang dengan pengalaman kerja yang mentereng, serta memiliki sertifikasi yang biayanya tak murah, jadi perusahaan tidak perlu repot-repot mengeluarkan biaya tambahan. Serta yang lebih parah: merekrut orang dari anggota keluarga atau kerabat sendiri. Saya merasa tak punya kesempatan untuk mengembangkan diri.

Orang bilang, cobalah mencari kerja dengan sistem WFH. Saya pun sudah melakukannya, namun ternyata WFH tak semudah yang dibayangkan kebanyakan orang.

Apa yang saya telah pelajari seakan tidak ada artinya.

Namun, hidup terus berjalan, dan tak terasa sudah lima tahun sejak pandemi.

Saya pun kembali melangkah di jalur kehidupan, sebagai orang yang biasa-biasa saja, tanpa cita-cita atau tujuan di depan mata.


|

#Note