Dipalak di Pelabuhan Makassar
Kemarin, saya sudah bercerita mengenai perjalanan saya bersama KM Labobar dari Jakarta sampai Makassar.
Kali ini, saya akan melanjutkan cerita saya saat berada di pelabuhan Makassar. Pengalaman yang tak menyenangkan.
Kronologinya seperti ini:
Saya tiba di pelabuhan Makassar pada hari Jumat (4/7), tengah malam.
Pada perjalanan kali ini, saya membawa dua tas, satu tas berukuran besar serta tas berukuran sedang. Saat turun, saya langsung membawa kedua tas tersebut (walau dengan susah payah). Saat di tangga, turun dari kapal, ada satu kuli pengangkut barang bersikeras ingin mengangkut tas besar saya, namun saya tolak karena saya masih bisa angkat sendiri. Namun, bukannya pergi si kuli tersebut malah seenaknya mengambil tas saya (sambil marah-marah ke saya), menaruhnya di mobil pengangkut barang, dan mobil tersebut pergi ke area luar pelabuhan. Saya sampai teriak-teriak untuk memberhentikannya, namun tas besar saya tetap diangkut ke luar pelabuhan.
Pasrah, saya pun bergegas mengambil tas saya di area luar pelabuhan. Di depan, jemputan yang saya sudah pesan pun telah datang dan saya pun memerintahkan sang supir untuk ke area luar pelabuhan untuk mengambil tas saya. Saat si supir menyalakan mesin mobil, mobil saya dicegat oleh seorang preman yang meminta "tarif masuk pelabuhan" sebesar 100 ribu Rupiah. Saya yang sudah capek ingin sekali marah-marah, namun teringat kalau preman di Makassar terkenal kasar, bawa kerumunan atau teman, dan suka bawa senjata tajam. Karena saya melihat cukup banyak preman di sana (dan daripada saya terluka), saya pun pasrah saja sambil merogoh seratus ribu Rupiah di kantong dan pergi dari sana.
Saya tak dipalak sampai di situ, karena saat di luar area pelabuhan saya pun kembali dipalak oleh kuli pengangkut barang sebesar seratus ribu Rupiah. Saya protes, karena saya tak menyuruh mereka untuk mengangkut barang saya. Namun, karena saya kalah jumlah (saya sendirian di sana), jadi saya kembali merogoh uang seratus ribu di kantong.
Sejauh ini, sudah 200 ribu Rupiah melayang.
Setelah mengambil tas besar saya, saya pun bilang ke supir untuk keluar dari sana. Akan tetapi, saya pun kembali dicegat oleh satpam dan kembali dimintai uang sebesar 15 ribu Rupiah. Uang buat keluar pelabuhan, katanya.
Jika ditotal, uang sebesar 215 ribu Rupiah melayang untuk si preman, kuli, dan satpam di pelabuhan Makassar.
Sepertinya nggak lagi-lagi saya turun kapal di pelabuhan di Makassar. Lain kali, saya bakal naik pesawat saja kalau ke Makassar (walau tarifnya lebih mahal). Saya berharap pelabuhan Makassar ini bisa disidak oleh aparat yang berwajib, jadi orang-orang merasa aman dan nyaman saat berada di pelabuhan Makassar, bukannya stres sambil misuh-misuh.