Berpetualang bersama KM Labobar
Jika kalian diberi kesempatan untuk mengunjungi Indonesia bagian tengah atau bahkan bagian timur, transportasi manakah yang kalian pilih?
Tentunya, setiap orang memiliki preferensi masing-masing, tak kerkecuali dengan saya.
Kalau saya, jika harga tiket pesawat sudah dirasa terlalu mahal namun saya punya banyak waktu luang, saya akan memilih naik kapal laut.
Dan itulah yang saya lakukan pada minggu lalu.
Minggu lalu, saya menaiki kapal milik Pelni, yaitu KM Labobar dengan rute Tanjung Priok, Jakarta ke Makassar, Sulawesi Selatan. Perjalanan saya dimulai pada tanggal 1 Juli dan berakhir pada tanggal 4 Juli tengah malam.
Saya membeli tiket kapal sekitar satu minggu sebelum keberangkatan. Karena saya memilih untuk berangkat ke Makassar pada awal bulan Juli, saya pun memilih KM Labobar yang berangkat pada tanggal 1 Juli.
Alasan saya naik kapal laut kali ini sangatlah simpel: ini bukanlah pertama kalinya saya naik kapal milik Pelni. Terakhir kali saya naik kapal Pelni adalah pada tahun 2019, di mana pada saat itu tiket pesawat sedang mahal-mahalnya. Selain itu, saya tergoda dengan promo diskon 50 persen dari Pelni untuk semua rute hingga akhir Juli 2025, dan saya tak ada masalah jika harus menghabiskan waktu tiga hari di perjalanan. Jika harga tiket naik pesawat dari Jakarta ke Makassar saat ini mulai dari 1.3 juta Rupiah, saya mendapatkan tiket kapal laut kali ini seharga 287 ribu Rupiah saja. Empat kali lipat lebih murah.
Setelah membeli tiket kapal, selama seminggu saya pun riset sedikit mengenai KM Labobar. Yang saya ketahui, KM Labobar dibuat pada tahun 2003 di Jerman dan dioperasikan oleh Pelni pada tahun 2004. Jadi sudah sekitar 21 tahun KM Labobar berlayar. Usia kapal ini termasuk muda dibanding kapal Pelni lainnya yang sudah berumur 30 atau bahkan 40 tahun. Selain itu, kapal ini berkapasitas sekitar 3000 hingga 4000 penumpang dan termasuk salah satu kapal dengan kapasitas terbesar milik Pelni.
Setelah membeli tiket dan riset, saatnya berangkat!
1 Juli (Hari Pertama)
Sekitar pukul 9:30, saya sudah sampai di Pelabuhan Tanjung Priok untuk menukarkan bukti pembelian tiket saya dengan boarding pass. Lalu, dua jam setelahnya saya pun memasuki KM Labobar.
Boarding pass dengan logo dan desain baru Pelni.
Kesan awal saya sesaat setelah memasuki KM Labobar adalah kondisinya yang terlihat kumuh. Ranjang yang kotor dan lengket, coretan vandal di dinding serta langit-langit dek, kecoa yang jalan kesana-kemari, lantai basah yang tidak dipel, hingga toilet yang bau membuat saya cukup syok. Kukira karena kapalnya termasuk "baru," jadi setidaknya agak bersih dibandingkan kapal yang saya naiki sebelumnya. Nyatanya tak demikian, rupanya.
Awalnya saya menempati bagian depan di dek 2 kelas ekonomi, namun karena udaranya pengap dan bau, AC-nya pelan, serta saya mual lama-lama di sana, saya pun mencari ranjang kosong di dek 5 pada kelas yang sama. Setidaknya di sana ada jendela, udaranya tak sepengap di dek 2, dan AC-nya cukup sejuk.
Tempat saya di dek 2, sebelum pindah ke dek 5.
Tempat saya di dek 5.
Pukul 12:30, saya pun solat di masjid yang terletak di dek 7. Dari semua fasilitas kapal yang ada, mungkin fasilitas masjid-lah yang terbaik. Tempat wudhu bersih, area solat berkarpet, serta AC-nya sejuk membuat saya betah lama-lama di sini.
Pemandangan Pelabuhan Tanjung Priok dari dek 7 KM Labobar, 30 menit sebelum keberangkatan.
Sekitar pukul 13:00, KM Labobar pun berangkat dari Jakarta menuju Surabaya. Perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya ditempuh dalam waktu sekitar 25 jam.
Karena kapal berangkat pada siang hari, para penumpang belum dapat diberikan makan siang oleh petugas. Sekitar satu jam setelah kapal berangkat, saya pun menyeduh cup noodle di dek 4, tempat air panas berada, namun satu jam setelahnya saya pun merasa mual, mungkin karena ini kali pertama saya makan cup noodle lagi setelah sekian tahun lamanya. Saya pun minum obat maag dan kembali tidur di ranjang saya hingga waktu makan malam.
Saat waktu makan malam tiba, saya hanya duduk di atas ranjang saya sambil menyantap bekal yang saya bawa dari Jakarta, tanpa pergi ke dapur kapal untuk mengambil makan malam. Setelah saya makan, petugas mulai datang untuk memeriksa tiket para penumpang, dan setelahnya saya kembali tidur.
2 Juli (Hari Kedua)
Hari kedua, kondisi saya mulai membaik. Saat subuh, saya pergi ke masjid untuk solat dan setelahnya saya menikmati sunrise di dek 7. Setelah puas menikmati pemandangan, saya pun mengambil boarding pass saya dan pergi ke dapur yang berada di dek 4 untuk sarapan. Menu sarapan di hari kedua adalah nasi putih dengan ayam lada hitam, sosis dan kerupuk, beserta air mineral dan susu UHT.
Menu sarapan pada hari kedua.
Pukul 14:30, kapal pun sandar di Surabaya. Saat berangkat dari Jakarta penumpang di kapal belumlah banyak, namun begitu di Surabaya keadaan berubah 180 derajat. Hampir semua ranjang terisi penuh di semua dek—bahkan saking penuhnya beberapa penumpang lebih memilih untuk tidur di lorong atau dekat tangga.
Pukul 19:00, kapal berangkat menuju Makassar, tujuan saya. Menu makan malam di hari kedua adalah nasi putih dengan ayam lada hitam (lagi), sayur tumis, dan daging giling(?), beserta air mineral.
Menu makan malam di hari kedua.
3-4 Juli (Hari Ketiga)
Di hari terakhir ini, saya berkenalan dengan rombongan yang terdiri dari ayah, ibu, serta kedua anaknya yang masih SD. Ia naik dari Surabaya dan berencana turun di Papua. Anaknya senang sekali bermain dengan saya. Kami bertiga pun bermain lego hingga main gim di Nintendo DS yang saya bawa. Selain keluarga tersebut, saya pun juga berkenalan dengan seorang santri yang kebetulan juga turun di Makassar. Kami pun mengobrol banyak hal, dan mendapati bahwa ia cukup sering bepergian, bahkan ke luar negeri.
Menu sarapan dan makan malam di hari ketiga.
Tak banyak hal yang saya lakukan pada hari terakhir ini. Sore hari, saya pun beres-beres barang bawaan saya dan memastikan tak ada barang yang tertinggal.
Sekitar pukul 00:00, kapal pun sandar di Makassar. Dengan demikian, perjalanan saya bersama KM Labobar pun berakhir.
Foto bagian depan KM Labobar saat sandar di Makassar.
Kesimpulan
Buat saya, tak semua orang bakal betah naik kapal milik Pelni, apalagi kalau perjalanannya jauh dan makan waktu berhari-hari.
Kondisi kapal Pelni itu mirip seperti kereta api jarak jauh di era 90-an akhir hingga 2000-an awal—sebelum pak Jonan mengubah wajah perkeretaapian seperti sebagus sekarang. Kumuh dan seadanya. Saya berharap transportasi kapal laut, terutama dari kapal Pelni lebih diperhatikan oleh pemerintah dan bisa dirombak penuh menjadi lebih baik seperti halnya kereta api.