hiki's lifelog

Mencari Pasangan Hidup di Usia 30-an

Beberapa hari yang lalu, saya melihat salah satu cuplikan acara televisi Jepang yang mewancarai salah satu mantan idol yang sudah memasuki usia 30-an. Di acara tersebut, ia bercerita bahwa ketika ia graduate (atau berhenti dari aktivitas idol) di akhir usia 20-an, ia ingin sekali untuk menikah, bahkan sampai di tahap desperate. Namun, ketika ia memasuki usia 30 tahun dan masih belum memiliki pasangan, niatnya untuk menikah pun perlahan sirna, seperti balon yang kempes.

Pengalaman sang mantan idol rasanya cukup relate dengan saya.

Di awal hingga pertengahan umur 20-an, saya fokus untuk kuliah dan mencari pekerjaan. Saya hampir tak pernah kepikiran untuk mencari pasangan di kampus maupun di tempat kerja. Namun, ketika akhir 20-an, di saat teman dan rekan sebaya satu per satu memiliki pasangan hidup lalu menikah, saya pun ikut mencari pasangan hidup, mulai dari dikenalkan teman hingga bergabung di aplikasi dating. Akan tetapi, usaha tersebut tak membuahkan hasil sama sekali, entah karena gaya hidupnya yang terlalu glamor dari perspektif saya, obrolan serta pemikiran kami berdua yang tak sejalan satu sama lain, atau yang lebih parah: di-ghosting.

Sudah beberapa tahun berlalu sejak saya memasuki usia 30-an, dan keinginan untuk mencari pasangan pun pelan demi perlahan sirna, sama seperti mantan idol di acara TV tersebut. Saya pun menghapus akun aplikasi dating saya karena dirasa tak berarti.

Sekarang, saya sudah pasrah.

Saya berharap, semoga Tuhan dapat mempertemukan saya dengan seseorang yang terbaik buat saya di masa depan, yang entah kapan. Atau, jika keinginan tersebut tak dikabulkan, setidaknya saya tak mati dalam kesepian.


|

#Note