Guru Favorit Saat SD
Saat SD, saya ini termasuk anak yang malas belajar (dan juga malas mengerjakan tugas). Sungguh.
Sepulang sekolah, saya pasti main ke rumah teman atau rental PS untuk bermain gim PlayStation One (PS1). PR? Tidur siang? Apa itu?
Sore harinya, saya pun kembali bermain bersama teman untuk main bola sepak di jalanan dekat rumah atau dekat masjid hingga azan magrib berkumandang. Malamnya, saya menonton anime favorit saya (di Lativi dan juga TV7).
Intinya, saya cukup menikmati masa kecil saya.
Sampai pada kelas 5 SD, saya dipertemukan oleh seorang guru yang mengubah hidup saya 180 derajat.
Sebut saja ia dengan nama "bu Elen". Perawakan boleh paruh baya, namun semangat mengajarnya masih tinggi sekali.
Ia terkenal di kalangan kakak kelas karena ia adalah guru ter-killer di SD saya. Ia tak hanya galak, ia bahkan tak segan-segan memukul muridnya jika sang murid tak bisa menyelesaikan suatu soal, apapun pelajarannya.
Saat kelas 4 SD, banyak teman saya berdoa agar tidak diajar oleh bu Elen, tak terkecuali dengan saya.
Akan tetapi, semesta berkehendak lain. Saya pun diajar olehnya saat kelas 5.
Dari sinilah saya yang pemalas ini digembleng olehnya.
Suatu hari di bulan Agustus 2004. Saat itu pelajaran Matematika dan sedang membahas materi pembagian dengan angka ribuan hingga puluhan ribu. Saat itu, saya cukup memahami pembagian satuan hingga puluhan, namun tidak dengan pembagian dengan angka ribuan, apalagi puluhan ribu. Saya berharap agar materi ini cepat berlalu.
Nyatanya tidak demikian.
Setelah materi ini selesai dibahas, ternyata bu Elen memanggil kami satu persatu untuk mengerjakan soal di papan tulis. Jika menjawab salah, sang murid harus berdiri di depan kelas sampai kelas selesai.
Dan tiba giliran saya untuk maju dan mengerjakan soal matematika yang ada di papan tulis.
Saya pun keringat dingin, tak bisa mengerjakan soal pembagian tersebut.
Sepuluh menit berlalu, dan saya hanya terdiam, sambil sesekali menulis angka yang ngawur. Bu Elen terus menunggu.
15 menit berlalu, bu Elen pun habis kesabaran dan berkata "sudah, berdiri kamu di samping papan tulis sampai kelas selesai."
Berdiri di depan kelas sendirian cukup membuat saya malu. Namun, saat itu saya masih belum kapok.
Keesokan harinya, bu Elen kembali menulis soal pembagian di papan tulis. Hanya saja, soal-soal ini ditujukan untuk mereka yang tak dapat menyelesaikannya kemarin. Berarti, saya masih harus maju ke depan dan berkutat dengan soal pembagian ini.
Dan tiba giliran saya untuk maju ke depan, dan saya pun tak dapat mengerjakannya. Alhasil, saya pun kembali berdiri di samping papan tulis.
Kemudian teman saya, A, maju ke depan. Sama seperti saya, ia pun tak bisa menyelesaikan soal di papan tulis.
Mungkin karena kesabaran bu Elen sudah habis, ia pun menghampiri A lalu memukulnya dengan penggaris kayu. Semua murid terkejut, termasuk saya.
Lalu ia berkata kepada A dan saya, "kalau sampai besok kalian masih tidak bisa pembagian, jangan harap kalian bisa ulangan, dan jangan pernah kalian menginjakkan kaki di kelas saya lagi. Paham?"
Saya pun mengangguk.
Setibanya di rumah sepulang sekolah, saya pun membuka buku matematika dan belajar pembagian dengan serius. Saya mencoba mengerjakan soal-soal matematika yang ada di buku, sambil sesekali bertanya kepada orangtua saya. Pokoknya sampai saya mengerti. Sambil frustrasi, bahkan menangis, saya belajar hingga malam, sampai-sampai saya melewatkan anime favorit saya.
Keesokan harinya, tentu saja saya dipanggil kembali untuk mengerjakan soal pembagian di papan tulis. Saya pun maju ke depan dan mengerjakan soal tersebut.
Walaupun agak kesulitan, namun saya bisa menyelesaikan soal tersebut dengan benar.
Bu Elen puas dengan jawaban yang saya berikan, dan saya diperbolehkan duduk kembali. Syukurlah.
Akan tetapi, teman saya, A, kembali tak dapat menyelesaikan soal di papan tulis. Ia benar-benar diusir keluar kelas dan disuruh pulang ke rumah. Bu Elen berkata ia tak boleh masuk kelas sebelum benar-benar memahami materi pembagian.
Sejak hari itu, saya memutuskan untuk belajar dengan serius. Bukan hanya di pelajaran matematika, namun juga pada pelajaran lainnya. Sepulang sekolah, saya langsung mengulangi materi yang telah saya pelajari di sekolah dan mengerjakan soal-soal yang ada di buku maupun di LKS. Saya pun juga jadi rajin mengerjakan PR. Saya tak ingin merasakan malunya berdiri di depan kelas karena tak bisa mengerjakan soal lagi. Sejak hari itu pula, frekuensi bermain saya pun berkurang, bahkan saya hanya bermain PS1 di akhir pekan saja.
Hasilnya pun mulai terlihat pada semester dua. Nilai 9 dan 10 mulai sering muncul dalam tugas-tugas maupun ulangan saya di berbagai macam pelajaran. Saya pun menutup akhir semester dua dengan menempati peringkat 8 dari 40 siswa.
Saat kelas 6, saya tak diajar olehnya namun saya memutuskan untuk tetap rajin belajar. Saya memutuskan untuk les karena saya ingin masuk ke SMP incaran saya, namun untuk masuk ke sana dibutuhkan nilai General Test yang tinggi (pada saat itu belum ada Ujian Nasional). Belajar, belajar, dan belajar. Begitulah kehidupan saya saat kelas 6 SD. Saya pun hanya bermain pada hari Minggu, itu pun jika saya sudah selesai mengerjakan PR. Saat semester satu dan dua, saya berada pada peringkat 5 dari 40 siswa; peringkat tertinggi saya selama enam tahun di SD. Tak hanya itu, saat semester dua, saya (bersama sembilan murid lainnya) mewakili SD saya untuk mengikuti lomba General Test antar wilayah Jakarta, dan sekolah kami berhasil meraih peringkat pertama. Di akhir tahun, saya pun meraih nilai General Test yang bisa dibilang bagus dan berhasil masuk ke SMP incaran saya.
Terima kasih banyak, bu Elen. Tanpa Ibu, nasib saya mungkin akan jauh berbeda daripada saat ini.