hiki's lifelog

Friendship Ended with Mozilla Firefox. Now What?

"Trust takes years to build and it takes seconds to destroy."

Begitulah apa yang saya pikirkan ketika saya melihat-lihat lagi berita mengenai Mozilla akhir-akhir ini. Setelah kepergian mereka dari Fediverse pada akhir tahun lalu, hingga pihak Mozilla yang menghapus janji untuk "tidak menjual data pengguna" dalam FAQ Firefox, membuat kepercayaan saya terhadap Mozilla (dan Firefox) betul-betul hilang seutuhnya.

Sudah hampir 20 tahun saya menggunakan Firefox sebagai browser utama. Mulai circa 2005-2006, ketika saya masih duduk di bangku SMP dan baru kenal dengan Windows, hingga saat ini di mana saya menggunakan Linux sebagai OS utama. Plugin (atau addons) yang bervariasi untuk berbagai macam kebutuhan, hingga bagian about:preferences dalam browser yang dapat diubah-ubah sesuai kebutuhan pengguna, membuat saya betah dengan browser ini selama hampir dua dekade, di antara banyaknya browser berbasis Chromium di luar sana.

Saat ini, saya menghapus browser Firefox di semua perangkat yang saya miliki dan beralih menggunakan browser alternatif, baik itu di PC maupun di mobile phone. Untuk PC, LibreWolf dan Floorp menjadi pilihan saya, di mana Floorp memiliki UI yang rapih dan cocok untuk pengguna kasual maupun pemula, serta LibreWolf untuk pengguna yang menginginkan kebebasan tanpa harus berkompromi dengan privasi serta keamanan. Sementara di mobile phone, saya masih kesulitan memilih browser mana yang bisa diandalkan, namun untuk saat ini saya menggunakan Fennec, yang bisa diunduh di F-Droid.

Sejauh ini, saya cukup suka dengan alternatif-alternatif yang saya pakai sekarang, walaupun memang masih ada kekurangan di sana-sini. Semoga para developer maupun volunteer bisa membantu mengatasi kekurangan-kekurangan tersebut.

Goodbye, Firefox.


|

#Firefox #Note